(Penulis: Al-Ustadz Muhammad Umar As Sewed)
Download Audionya di sini
(Dimulai dengan Khutbatul Haajjah)
Alhamdulillah,ama ba’du
Ikhwani fiddin a’azakumullah,
Disini ada pertanyaan yang berkaitan dengan fitnah Sururiyyah. Dan
berkaitan pula dengan tokoh-tokohnya dan orang-orangnya. Ditanyakan
disini dari mulai ABU QATADAH (Da’i Al Sofwah Jakarta, red), ABU HAIDAR (As Sunnah, Bandung, red),YAZID JAWWAS (rekan Abdul Hakim Abdat, da’i Al Sofwah/Al Haramain, red), ABU NIDA’ (At Turots, Jogjakarta red), AUNUROFIQ GUFRON (Ma’had Al Furqan, Gresik, red), YUSUF BAI’SA (Ma’had Al Irsyad, Tengaran, Salatiga, red), ABDURRAHMAN ABDUL KHOLIQ, AINUL HARITS, ARIFIN, ABDUL HAKIM ABDAT (da’i Al Haramain/Al Sofwah), dan lain-lainnya. dan kemudian ditanyakan pula AL-SOFWA, AT
TUROTS, AL IRSYAD, dan lain-lain.
Lanjut Tentunya lebih tepat kalau saya jawab dari belakang dulu, dari
organisasinya dulu, dan lebih bagus lagi kalau saya menerangkan pada
antum tentang fikrohnya dulu, ya’ni fikroh Sururiyyah dulu . Ya’ni
Sururiyyah berasal dari kata Surur atau dari nama
MUHAMMAD SURUR NAYIF ZAINAL ABIDIN.
Muhammad Surur adalah seorang yang tadinya Ikhwanul Muslimin (IM),
kemudian dia keluar dari IM, dan kemudian mengaku Salafy. Orang yang
sejenis Muhammad Surur ini banyak, seperti
ABDURRAHMAN ABDUL KHALIQ itupun dari IM kemudian keluar dan kemudian mensyiarkan dirinya sebagai Salafy. Atau mengaku Salafy.
Orang-orang jenis ini mereka keluar Ikhwanul Muslimin dari Harokah
IM, atau partai politik IM atau keluar dari kelompok firqoh IM, dan
menyatakan taubat dari IM, dan menyatakan taubat “saya keluar dan saya
taubat” seperti juga Muhammad Quthub itu juga mengaku keluar dan kembali
kepada Salaf , tetapi dalam perjalanan mereka yang katanya mau kembali
kepada Salaf, ternyata masih memiliki fikroh Ikhwaniyyah. Fikrohnya
Ikhwanul Muslimin atau prinsip cara berfikir Ikhwanul Muslimin. Yang
tentunya kita harus tahu bahwasannya prinsip IM ini berarti atau prinsip
Sururiyyah ini berari sama dengan prinsip IM sesungguhnya, hanya beda
istilah saja.
Apa yang dikatakan oleh para IM juga diucapkan pula oleh Sururiyyin,
hakikatnya. Dengan cara dan bentuk istilah yang berbeda tapi intinya
sama maka. Kalau begitu sururiyyah sama dengan ikhwaniyah dan kita perlu
menerangkan tentang Ikhwanul Muslimin itu sendiri. Ikhwanul Muslimin,
prinsip bid’ah mereka yang menjadikan mereka menjadi kelompok sempalan
yang keluar dari Ahlus Sunnah adalah karena mereka memiliki prinsip
“NATA’AWAN FIMA TAFAKNA WA NA’DZIRU BA’DINA BA’DON FI MAKHTALAFNA” kata mereka
“kita saling kerjasama apa yang kita sepakati dan kita hormat-menghormati saling memaklumi apa yang kita berbeda”.Ini
prinsipnya IM, saya ulangi Nata’awan fima tafakna, “Kita saling kerja
sama saling bantu membantu dalam apa yang kita sama, kita sepakati dan
kita memaklumi hormat menghormati, dengan apa yang kita berbeda”. Dengan
prinsip ini IM tidak menganggap ada ahlil bid’ah sama sekali, semuanya
kawan tidak ada lawan. “Ahlil bid’ah mereka sama-sama sholat dengan
kita, maka kita tolong menolong dalam apa yang kita sepakati, mereka
sama-sama…” pokoknya apa yang kita sama kita kerja sama, ini IM.
Sehingga
HASAN AL-BANNA, AT-TUROBI, dan sekian banyak
tokoh-tokoh mereka selalu berusaha menggabungkan antara Sunnah dengan
Syi’ah, dan mereka mengatakan yel-yel Laa Syarqiyyah, Laa Gharbiyyah,
Laa Sunniy, wa Laa Syi’ah, Islamiyyah, Islamiyyah, itu yel-yel yang
selalu mereka dengungkan anasid dengan sair, dengan nyanyi dengan ikrar,
“Tidak timur tidak barat tidak Sunni tidak Syi’ah yang penting Islam”
kata mereka ini prinsip mereka kemudian ditebarkan pada masyarakat.
“Kalian jangan ribut terus, sudahlah jangan saling menyalah-nyalahkan,
semuanya apakah dia Salaf apakah dia Sufi, apakah dia Mu’tazili, Syiah,
semua itu saudara, semua Muslimin. Apa yang kita sama kita tolong
menolong dan apa yang kita beda, kita hormat-menghormati”, katanya
begitu .Ini sepintas kilas perkaranya agak masuk akal, “Iya ya, kalau
nggak gini gak akan bersatu”, sepintas kilas kalau kalau dipikir akal
saja.Padahal kata para ulama prinsip ini akan meruntuhkan agama secara
keseluruhan dan prinsip ini menggugurkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
[ketika kamu] mau mengingkari kebid’ahan, [mereka katakan: ] “ …jangan
ya akhi kita harus saling menghormati, kita jangan menyalahkan mereka”,
begitu, sehingga tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Dan berarti
membolehkan manusia berjalan di jalan bid’ah manapun, ini sudah jelas
sesatnya. Sehingga di dalam Ikhwanul Muslimin Jangan kamu kira mereka
sama statusnya, fikirannya, aqidahnya.