Kamis, 13 Februari 2014

Pelangi di Kampung Laut

(Catatan Kecil Perjalanan ke Kampung Laut )
.
Sinar surya pagi berusaha menyapa kami, yang telah dua malam ini berteduh bersama ketenangan di kompleks pondok pesantren An Nuur Al Atsary. Kelembutan sinarnya tersaput mendung yang menggelayut di langit Banjarsari, Ciamis. Sementara itu, ayam Pelung jantan yang telah bangun semenjak fajar menyingsing, berulang kali berkokok dari arah kediaman Ustadz Khotib Muwahid, seolah mengajak kami untuk segera berbenah dan memulai aktifitas.
Sisa-sisa air hujan semalam masih berbekas di pelataran dan jalanan sekitar pondok, mencoba melekatkan tanah liat di alas kakiku bagai salam hangat perkenalan… Sembari mengayun kaki, terasa udara segar mulai berebut menyeruak masuk ke bilik paru-paru bersama hirupan nafas. Tentu saja, alam pedesaan ini akan membuat rindu dan iri sebagian orang kota.
Pondok pesantren yang sederhana, begitu kesan pertama yang tertanam di benakku. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, sebagian ruangan untuk “aktipitas” santri adalah bekas kandang ayam yang dialihfungsikan. Pun dinding ruangan pondok sebagian didominasi anyaman bambu dan tiang-tiang kayu, dan lantai dari bilah-bilah papan yang diatur berjajar.
Ponpes An Nuur Al Atsary
Ponpes An Nuur Al Atsary
Ponpes An Nuur Al Atsary
Ponpes An Nuur Al Atsary
Namun begitu, genderang dakwah yang ditabuh dari pondok pesantren ini, getarannya terasa hingga pucuk gunung dan tepian laut di kawasan Ciamis dan Cilacap. Subhanalloh… Tentu semua ini atas pertolongan Alloh dan kehendakNya.
***
Beberapa kali terdengar panitia mengingatkan untuk segera bersiap, karena rombongan yang hendak ke Kampung Laut akan berangkat pukul enam pagi. Butuh waktu sekira satu jam perjalanan darat untuk sampai ke pelabuhan Majingklak, dan satu jam perjalanan lagi menyusuri Segara Anakan menuju Ujungalang Cilacap.
Bagai di negeri Nyiur Hijau !
Gumamku dalam hati. Dari pondok menuju Majingklak, nampak pohon kelapa berdiri tak teratur di kiri dan kanan jalan, apalagi menjelang tiba di muara sungai Citanduy, deretan nyiur hijau itu makin kerap dan lebat. Buahnyapun nampak ranum dan segar. Sayang sekali tak nampak satupun penjual kelapa muda yang berjualan di pinggir jalan. Barangkali di tempat ini, buah kelapa muda bukan komoditas menguntungkan untuk menambah penghasilan, mungkin lebih menguntungkan untuk dijual di tempat lain.
Pandanganku sempat terusik oleh batang-batang kayu dan sampah yang mengambang terbawa arus sungai Citanduy menuju Segara Anakan. Air sungai kecokelatan bak warna air kopi bercampur creamer telah menyambut kami setiba di Majingklak. Majingklak bukanlah pelabuhan yang besar, statusnya pun hanya sekedar pelabuhan penyeberangan penumpang dan barang dari Ciamis ke Cilacap. Konon kabarnya dahulu kapal fery sempat beroperasi di tempat ini. Sayang sekali saat ini sudah tidak lagi, sejak pendangkalan di Segara Anakan semakin parah. Hingga kini masyarakat di Majingklak masih bergelut dengan kebutuhan air bersih dan layak untuk dikonsumsi. Sebagian mereka memilih menyedot air dari Sungai Citanduy, lalu mereka endapkan dengan melarutkan bongkah-bongkah tawas. Itupun air yang berhasil diendapkan tak bisa dibilang jernih, namun masih mending dibandingkan mereka harus mengonsumsi air sungai Citanduy langsung. Sebenarnya mereka bisa mengambil air bersih dari Pulau Nusakambangan yang kini nampak di seberang pelabuhan Majingklak. Tentu saja, butuh biaya yang tidak sedikit untuk bisa mengangkut air bersih dari tempat tersebut sekaligus resiko kapal kecil mereka oleng saat mengarungi Segara Anakan. Segala puji bagimu, Yaa Alloh yang telah melimpahkan kenikmatan air bersih yang berlimpah…
Wallohu a’laam, seorang pejabat desa Pamotan (yang menaungi wilayah Majingklak) mengatakan bahwa ada mata air di bukit yang berjarak sekira 4 kilometer dari pelabuhan Majingklak, dan pihak Perhutani telah memberi ijin pemanfaatannya, sementara pihak desa masih mengalami kesulitan untuk mewujudkan hal tersebut. Semoga ada di kalangan kita Ahlus Sunnah yang Alloh berikan kemampuan untuk bisa menyediakan sarana air bersih, sekaligus bermanfaat sebagai salah satu kunci pintu dakwah Ahlus Sunnah di daerah ini, sebagaimana dahulu dicontohkan sahabat ‘Utsman ibn ‘Affan ketika membeli sumur Roumah dari seorang Yahudi… Semoga hal itu menjadi amalan yang besar dan berbarokah…
Pelabuhan Majingklak
Pelabuhan Majingklak
***
Satu jam telah berlalu… Kami tiba di Ujungalang Cilacap, tempat penyelenggaraan muhadhoroh bersama Al Fadhil Al Ustadz Luqman Ba’abduh. Desa ini merupakan salah satu lahan Kristenisasi di Kecamatan Kampung Laut selain tiga desa lainnya : Ujunggagak, Klaces dan Panikel. Bukti nyata bahwa tempat ini adalah lahan Kristenisasi adalah keberadaan sebuah gereja kecil di dekat pelabuhan Ujungalang. Pelabuhan Ujungalang bersambung dengan pemukiman penduduk yang sebagian nampak kurang terawat, meski sebagian besar bangunan telah permanen. Rumah-rumah penduduk nampak sepi. Kebanyakan berukuran kecil, dengan pelataran lebih rendah dari jalan kampung, bahkan sebagian rumah nampak lebih rendah dibandingkan jalan kampung yang kami lalui. Tembok pagar rumahpun berukuran mungil, hanya setinggi 50 cm dari permukaan jalan. Jalanan sepanjang jalur dari pelabuhan menuju SDN Ujungalang 1 telah terpaving meski celah antar paving tak terlalu rapat, sehingga terasa bergelombang bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda motor yang melaluinya.
Subhaanalloh… Hingga acara berlangsung, sekira 1000 orang hadir di SDN Ujungalang 1 Cilacap. Sambutan dari aparat Pemerintah sangat bagus, bahkan pihak Kepolisian Republik Indonesia telah mengetahui bahwa penyelenggara kajian bukanlah kalangan teroris, sehingga mereka pun mudah memberikan ijin penyelenggaraan. Salah satu pelajaran penting yang saya ambil adalah : Al Ustadz Luqman Ba’abduh sengaja menampakkan syi’ar, bahwa salah satu prinsip Ahlus Sunnah adalah ketaatan terhadap Pemerintah, langsung di hadapan Aparat Pemerintah, Aparat Kepolisian dan masyarakat umum, tanpa mengorbankan harga diri kita sebagai Ahlus Sunnah.
Ujungalang
Sedari tadi nampak seorang laki-laki berjenggot dan berjubah abu-abu, berdiri tiga meter di samping kiri Al Ustadz Luqman Ba’abduh, berusaha serius menyimak apa yang disampaikan ustadz. Kata Fikri, salah seorang pengurus pondok pesantren An Nuur, lelaki itu seorang mu’alaf. Pak Tohari demikian namanya, dahulu dikenal sebagai tangan kanan misionaris Kampung Laut dan kini dia telah kembali kepada Jalan Keselamatan, Al Islam.
Kami masih bertahan di SDN Ujungalang 1 hingga menjelang waktu Dluhur, bersamaan dengan berita bahwa kapal yang akan membawa kami bersama rombongan Asatidzah menuju Ujunggagak telah siap.
***
Tiga kapal yang membawa kami bersama rombongan Asatidzah menuju Ujunggagak terasa cepat mengarungi perairan. Alhamdulillah kapal yang saya tumpangi menggunakan mesin tempel, tidak bermesin diesel sebagaimana saat kami berangkat. Nampak beberapa ekor ikan berlompatan di sekitar jalur kapal, mungkin mereka kaget menyambut kehadiran kami. Nampak pula sambutan menyenangkan yang terpancar dari ukiran senyum di wajah Pak Tohari yang duduk di samping Fikri. Beberapa kali dirinya menyapa beberapa orang nelayan yang sibuk membenahi jaringnya di sepanjang jalur air menuju Ujunggagak. Pak Tohari dan adiknya Luqman, keseharian mereka adalah nelayan kecil. Keduanya tinggal di desa Ujunggagak dan kini rajin mempelajari Diinul Islam dari asatidzah pondok pesantren An Nuur Al Atsary yang ditugaskan berdakwah di Kampung Laut.
Kami dan rombongan Asatidzah bergegas menuju sebuah rumah yang merupakan aset dakwah di Ujunggagak. Nampaknya Al Ustadz Luqman ingin membahas beberapa hal serius bersama rombongan Asatidzah, terkhusus Asatidzah pondok pesantren An Nuur Al Atsary tentang program dakwah di Kampung Laut.
” Doakan saya, Ustadz ! “, kata Ja’far, salah seorang juru mudi kapal pada Ustadz Luqman.
.
Jawab beliau santun, ” Kita sama-sama berdo’a. Antum berdo’a dan ana juga berdo’a “
Jujur saja, saya berusaha mengamati dan belajar beberapa hal yang saya saksikan langsung dari Ustadzuna Luqman Ba’abduh. Bukan bentuk ta’asub kepada beliau, namun saya sedang belajar bagaimana adab dan akhlaq yang beliau praktikkan berdasarkan sunnah Rosul. Pun saya tatap lekat-lekat, kala beliau memberikan salam kepada anak-anak kecil di Ujunggagak ketika berjalan menuju kapal. Semoga Alloh senantiasa menjaga beliau di atas al Haq, dan semoga kita bisa meneladani Rosululloh…
***
Rombongan tiba di Platar Agung, tempat dimana sebuah musholla telah dibangun oleh pondok pesantren An Nuur Al Atsary. Dari lantai dua gardu pandang sederhana di sisi kanan musholla, kami bisa melihat nun jauh di sana Samudera Hindia. Deburan ombaknya sedang tak ganas, menghantam sisi-sisi batu karang yang seolah menjadi tameng. Berbekal teropong salah seorang di antara kami, nampak lebih dari 20 kapal nelayan sedang menjaring ikan di perairan Samudera.
” Kita ada markas di atas bukit sana. Dari sana kita bisa lihat ke laut “, kata Ustadz Khotib Muwahid.
.
” Ayo kita ke sana “, sambut Ustadz ‘Abdush Shomad bersemangat.
Rencana ke bukit yang dimaksud Ustadz Khotib terpaksa dibatalkan. Jalanan menuju puncak bukit terlalu curam dan berbahaya, sementara di bawah bukit tersebut banyak karang-karang tajam.
Sesuai harapanku semula, akhirnya kami dan rombongan Asatidzah menuju Pasir Putih. Hanya menyeberang dari Platar Agung ke sisi utara ujung barat Pulau Nusakambangan, kami tiba di pantai yang dihiasi batu-batu hijau kecil. Dari tempat ini masih berjarak sekitar 1 km untuk sampai di pantai Pasir Putih, kami harus berjalan naik bukit menuju sisi selatan ujung barat Pulau Nusakambangan. Di kanan kiri jalan setapak nampak tanaman yang tumbuh liar dan sebagiannya kukenali sebagai tanaman obat, sebagian lagi palawija di ladang milik petani. Terbersit keherananku, bagaimana bisa para petani itu bercocok tanam di tempat ini, sementara tak nampak rumah-rumah penduduk di sekitar sini?
Subhaanalloh… Benar-benar pantai Pasir Putih yang indah. Butiran pasirnya benar-benar berwarna putih, dihiasi berbagai kulit kerang yang tersapu ombak menuju tepi pantai. Sementara itu, jauh di hadapan kami nampak karang-karang hitam tegar menghadapi hantaman ombak samudera.
Di tempat ini, saya kembali mengamati dan belajar langsung dari Ustadzuna Luqman Ba’abduh. Bagaimana adab beliau ketika bercanda dan bermain, bahkan ketika meludah. Semoga Alloh senantiasa menjaga beliau di atas al Haq, dan semoga kita bisa meneladani Rosululloh…
Senja telah menjelang… Saat-saat penuh godaan bagi para nelayan. Saat dimana ikan-ikan keluar dari persembunyiannya. Kami pun bergegas kembali ke Majingklak.
Pelangi di Kampung Laut
ditulis oleh : Admin

http://www.ibnutaimiyah.org/category/kisah/

Baca Selengkapnya ....

Dunia Itu Bangkai !


oleh : Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz
.
Dunia Itu Bangkai !
Dunia itu ibarat seonggok bangkai, dan seekor singa tidak akan melahap onggokan bangkai!
***
Burung Hud-Hud sungguh-sungguh di dalam menjalankan perintah Sulaiman. Sepucuk surat yang berisi perintah agar Ratu Saba’ beserta seluruh rakyatnya untuk tunduk dan beribadah kepada Allah telah sampai di genggaman tangan Ratu Saba’.
“Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.
Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”, Ratu Saba’ meminta masukan dan pertimbangan dari orang-orang kepercayaannya.
Mula-mula para pembesar kerajaan Saba’ hendak menantang dan menentang tawaran Sulaiman. Sebab mereka merasa memiliki angkatan perang yang kuat dan tak terkalahkan. Akan tetapi sang Ratu memilih cara lain.
Ratu Saba’ ingin menguji kebenaran dan kejujuran Sulaiman dengan harta dunia. Ia akan mencoba mengirim berbagai macam hadiah yang mahal dan bernilai tinggi untuk Sulaiman. Setelah itu Ratu Saba’ ingin menilai apakah Sulaiman tetap kokoh pendiriannya ataukah akan goyah dengan hadiah tersebut sehingga berubah pikiran? Lalu, setelah itu bagaimanakah sikapnya dan seluruh pasukannya?
Allah berfirman menceritakan tentang pendapat Ratu Saba’,
 وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ
.
Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”. (QS. 27:35)
Al Hafidz Ibnu Katsir membawakan pendapat Ibnu Abbas dan yang lain, ”Jika ia menerima hadiah tersebut, maka ia hanyalah seorang raja oleh karena itu lawanlah dia. Akan tetapi jika ia menolaknya, maka ia pasti seorang nabi sehingga kalian harus mengikutinya”.
Utusan Ratu Saba’ berikut hadiah ‘dunia’ akhirnya tiba juga di hadapan Sulaiman. Seperti apakah sikap Sulaiman, sang nabi mulia? Sulaiman mengingkari sikap Ratu Saba’. Hadiah ‘dunia’ semacam itu sama sekali tidak menggoda dan menggoyahkan sikap Sulaiman. Sulaiman bukannya senang dengan ‘dunia’ yang dihadiahkan untuknya.
“Apakah kalian akan mencoba menggoyahkan sikapku dengan harta? Supaya aku membiarkan kalian berbuat syirik kepada Allah juga membiarkan kerajaan kalian?  Harta, kerajaan dan angkatan perang yang Allah berikan untukku jauh lebih baik dari yang kalian punya! Kalianlah orang-orang yang bisa tunduk dengan hadiah dan pemberian. Adapun saya, tidak akan menerima dari kalian kecuali Islam ataukah pedang!”, demikianlah Al Hafidz Ibnu Katsir menafsirkan ayat 36 dari surat An Naml.
Subhaanallah!
Pelajaran berharga dari seorang nabi mulia. Islam dan Iman jauh lebih bernilai dan berharga dibandingkan harta dunia. Harta dunia hanya bersifat sementara dan fana. Bahkan harta dunia akan menjadi sebab bala dan siksa di akhirat kelak jika tidak disalurkan di jalan Allah. Orang-orang yang tidak memiliki harta (kecuali seperlunya saja), akan lebih cepat di dalam proses Hisab (perhitungan amal) nantinya.
Ya Allah, kami memohon kepada Mu agar Engkau memudahkan kami di saat Hisab nanti.
Sahabat Rasulullah, Abdullah bin Mas’ud  (Siyar A’lam Nubala pada biografi beliau) menyatakan,
 مَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ أَضَرَّ بِالدُّنْيَا، وَمَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا، أَضَرَّ بِالآخِرَةِ، يَا قَوْمُ فَأَضِرُّوْا بِالْفَانِيْ لِلْبَاقِيْ
.
“Setiap hamba yang mengharapkan akhirat pasti akan terganggu dunianya. Dan setiap hamba yang mengejar dunia pasti akhiratnya akan terganggu. Wahai kaum! Biarlah dunia fana terganggu demi kehidupan yang kekal”
Demikianlah hakikat dunia!
Tidak sedikit dari hamba yang lebih mendahulukan kepentingan dunia. Apapun alasannya, sebab alasan bisa dibuat-buat. Hanya saja, apakah alasan tersebut akan diterima oleh Allah? Tidak ada yang berani memastikannya.
Dengan alasan kerja, shalat berjama’ah ditinggalkan. Bahkan terkadang shalat ditegakkan di luar waktunya. Dengan alasan kebutuhan ekonomi, tawaran bantuan dari pihak gereja ditandatangani. Padahal syarat bantuan harus dipenuhi. Dengan alasan desakan keluarga, seorang wanita muslimah menghabiskan waktu di tempat kerjanya yang jauh dari nilai-nilai syar’i. Allahumma sallim sallim
Benar-benar agama diperjualbelikan demi kepentingan dunia! Na’udzu billah min dzalik…
Rasulullah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim,
 بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
.
“Segeralah di dalam beramal sebelum datangnya fitnah (ujian dan cobaan agama)! Seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di kala pagi seorang hamba masih beriman namun di sore hari telah kafir. Masih beriman di sore hari namun paginya telah kafir. Ia menjual agamanya dengan sepotong dunia”
Ah… dunia ini hanya sebentar saja! Berapakah usia kita kini? Telah berapa tahun kita menjalani hari-hari di dunia? Seperti mimpi saja. Seolah-olah baru saja kemarin kita masih kecil. Cobalah mengenang masa lalu, tak terasa telah puluhan tahun terlewatkan. Lalu, berapa tahun yang tersisa dari umur kita?
Dunia ini hanya ibarat seonggok bangkai.
Hanya anjing yang berebut bangkai. Anjing-anjing sama bertengkar dan berkelahi demi seonggok bangkai. Perhatikanlah kehidupan anjing! Mereka akur, bersahabat dan berteman. Akan tetapi, di hadapan seonggok bangkai mereka menjadi bermusuhan. Padahal apalah arti seonggok bangkai? Singa tidak akan melahap bangkai!
Begitu pula dunia! Manusia-manusia yang tak ingin mendekat kepada Penciptanya pasti akan berebut dunia. Mereka sama bertengkar dan berkelahi demi kepentingan dunia. Bahkan tidak jarang darah tertumpah, hubungan persaudaraan terputus, dendam kesumat dan kebencian menjadi akhir dari sebuah perebutan kepentingan dunia. Harta, jabatan, wanita, kedudukan dan sebutlah apa saja dari bagian duniawi.
Hanya anjing yang berebut bangkai! Kasarkah kata-kata ini?
Ah,tidak! Kata-kata di atas hanyalah dimengerti dari bait-bait syair Al Imam Asy Syafi’i di dalam Diwan Al Imam Asy Syafi’i  halaman 2.
Beliau bersyair…
وَمَنْ يَذُقِ الدُّنْيَا فَإِنِّيْ طَعِمْتُهَا … وَسِيْقَ إِلَيْنَا عَذْبُهَا وَعَذَابُهَا 
فَلَمْ أَرَهَا إِلَّا غُرُوْرًا وَبَاطِلًا … كَمَا لَاحَ فِيْ ظَهْرِ الفَلَاةِ سَرَابُهَا 
 وَمَا هِيَ إِلَّا جِيْفَةٌ مُسْتَحِيْلَةٌ … عَلَيْهَا كِلَابٌ هَمُّهُنَّ اجْتِذَابُهَا
 فَإِن تَجْتَنِبْهَا كُنْتَ سِلْمًا لِأَهْلِهَا … وَإِنْ تَجْتَذِبْهَا نَازَعَتْكَ كِلَابُهَا
 .
Barangsiapa ingin merasakan dunia, sungguh aku pernah merasakannya
.
Pernah dialirkan untuk kami kesenangan dunia juga penderitaannya
.
Ternyata, aku tidak melihatnya kecuali hanya sebatas tipuan dan kebatilan belaka
.
Persis fatamorgana yang terpampang di padang sahara
.
Dunia itu tidak lain hanya bangkai tak berharga
.
Di atasnya hanyalah anjing-anjing yang bernafsu untuk menguasainya
.
Jika engkau menghindar, engkau akan selamat dari mereka
.
Namun jika engkau juga ingin menguasainya, anjing-anjing itu akan mengeroyokmu bersama
 ***
اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
 .
“Ya Allah, janganlah Engkau timpakan musibah dalam kepentingan agama kami. Janganlah engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami juga akhir dari ilmu kami”
Wallahu a’lam…
http://www.ibnutaimiyah.org/2014/01/dunia-itu-bangkai/

Baca Selengkapnya ....

Rabu, 12 Februari 2014

Ku Temukan Cinta di Dalam Manhaj Salaf


Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

Judul tulisan di atas sengaja saya ambil dari sebuah tema Daurah SMA se Eks Karesidenan Surakarta. Ketika itu, mulai dari 25 Desember sampai dengan 28 Desember 2009, Pesantren kami mengadakan kegiatan Daurah untuk yang ke-empat kalinya bagi siswa-siswi SMA/SMK, memanfaatkan musim liburan.
Ketika sebagian muslimin ikut terlena dalam perayaan Natal atau persiapan malam tahun baru, anak-anak muda itu justru semangat-semangatnya mengkaji Islam berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan pemahaman Salaf. Rindu dan kangen rasanya dengan momen-momen seperti itu.Sudah ratusan anak muda yang pernah mengecap manisnya Daurah SMA/SMK tersebut. Entah di mana mereka sekarang?
Semoga saja mereka tetap istiqomah!
O0000_____ooooO
Bus yang kami gunakan berukuran sedang. Kurang lebih, empat puluh kursi yang tersedia. Hari Jum’at kemarin, untuk yang kedua kalinya, kawan-kawan dari kabupaten Utmah mengajak saya untuk bergabung bersama mereka dalam kunjungan ke Utmah. Kesempatan yang sulit ditolak! Utmah hari-hari ini dalam view indah-indahnya, kata mereka.
Dalam perjalanan pulang, menjelang maghrib, seorang kawan bernama Basyir Al Aanisi mengubah suasana hening menjadi hidup. Dari tempat duduknya yang berada di ujung kiri bagian belakang, ia didaulat untuk berkisah kecil tentang dirinya.
“Ceritakanlah perantauanmu! Pengembaraanmu untuk mencari kebenaran hakiki. Pengembaraan yang membuatmu keluar masuk berbagai kelompok Islam. Buatlah kami belajar darimu!”, kata wakil koordinator rombongan.
Mula-mula ia menolak. Dengan malu-malu ia mengaku tidak pantas berbicara di hadapan kami serombongan. Namun permintaan yang terus mengalir disertai dengan permohonan bersama, ia pun mulai bercerita.
Sudah banyak kelompok Islam ia datangi. Duduk,  berjalan, berdiskusi, hidup dan bergaul di tengah-tengah mereka. Bertahun-tahun lamanya ia mencari kedamaian di hati, namun masih gersang juga hatinya. Ingin ia membasahi hati agar segar, sejuk, hidup dan menyalurkan keteduhan ke seluruh jiwanya.
Kelihatannya ia berkisah dengan hati. Itu terlihat dengan teriakan takbir secara spontan dari sebagian peserta. Berkisahnya seakan membius kami. Terharu, tersentuh dan tersentak kami dengan ceritanya.
“Satu hal yang saya simpulkan dari kelompok-kelompok itu! Tiap-tiap kelompok menuntut agar pengikutnya memberikan sesuatu untuk kelompoknya. Ikhwanul Muslimin meminta suaramu untuk menang pemilu. Jama’ah Tabligh mengharuskanmu untuk hidup berhari-hari di jalanan. Mau tidak mau, kamu harus duduk khusyu’ di depan kuburan jika bergabung bersama kaum Sufi”, katanya penuh semangat.
Ia melanjutkan,” Namun berbeda sangat! Setelah saya mengenal Sunnah, Manhaj Salaf,apa yang dituntut? Saya tidak dituntut agar memberikan apa-apa untuk Ahlus Sunnah! Belajarlah agama untuk kepentinganmu sendiri! Shalat, puasa dan beribadahlah untuk kebaikanmu sendiri! Engkau berdakwah? Itu bukan karena dakwah membutuhkan kamu, tetapi kamulah yang membutuhkan dakwah!”
“Apakah kamu pernah menangis bahagia ketika mengenal manhaj Salaf? “,tanya seorang peserta.
Ia menjawab dengan bercerita tentang dzikir pagi yang biasa ia baca,
 اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنْكَ وَحْدَكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ، وَلَكَ الشُّكْرُ
“Ya Allah,setiap nikmat yang aku rasakan di pagi ini, hanyalah berasal dari-Mu semata. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Maka segala puji dan syukur hanyalah untuk-Mu”[1]
“Setiap aku membaca dzikir di atas, aku yakin bahwa nikmat terbesar dalam hidupku adalah mengenal Sunnah, mendekap manhaj Salaf”, katanya mengakhiri kisah.
Kisah panjangnya itu mengundang banyak tanggapan dari peserta.
Man jadda wajada. Barangsiapa bersunggguh-sungguh, pasti ia akan memperoleh yang dicari”
Man bahatsa amsaka. Barangsiapa mencari, niscaya ia akan merengkuhnya”
Lan ya’rifa ahadun qadral halaawah illa man jarrabal maraarah. Tidak ada seorangpun yang benar-benar bisa menilai nilai “manis”,kecuali ia pernah merasakan “pahit”.
Namun,yang terpenting dari itu semua adalah firman Allah Ta’ala ;
 وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69)
O0000_____ooooO
masjid ibnu taimiyah
masjid ibnu taimiyah
Saya teringat tentang sebuah malam di Masjid Ibnu Taimiyah, Solo. Seorang bapak berpenampilan rapi terlihat begitu antusias di dalam kajian Islam selepas maghrib hari itu. Dengan ditemani Bang Indra, seorang sahabat dekat, mengalirlah perbincangan di antara kami. Saya, Bang Indra dan bapak itu.
“Akhirnya,saya menemukan apa yang saya cari-cari selama ini, Ustadz”, ujarnya. Secara ringkas, bapak itu bercerita tentang latar belakangnya sebagai seorang seniman. Kesukaan kepada dunia seni, menghantarkan beliau menjadi seorang dosen seni di sebuah universitas negeri di kota Yogyakarta. Karir mentereng di dunianya.
Beliau sempat menyatakan,” Teman-teman saya banyak yang berpandangan atheis. Tidak meyakini keberadaan sang Khalik. Awalnya saya pun terbawa oleh pandangan tersebut. Namun, saya mulai merasakan kegalauan dan kegelisahan”.
Bapak itu bercerita tentang usahanya yang tidak pernah kenal lelah untuk menemukan penawar gelisahnya. Waktu dan kesempatan digunakan untuk melakukan browsing, berselancar di dunia maya. Mencari dan terus mencari. Agama Islam yang senyatanya banyak firqah dan kelompok sempalan di dalamnya, justru menambah semangat beliau untuk terus mencari.
“Nah, akhirnya saya ketemu dengan Mas Indra di masjid kampung, Ustadz. Saya mulai sedikit-sedikit merasakan apa yang selama ini telah hilang dari diri saya”, kata bapak itu.
Tahukah Anda, di manakah titik kulminasi kegelisahan beliau? Ketika beliau, dengan dasar ilmu seni yang dimiliki, mengagumi keindahan alam semesta. Merenungkan keteraturan angkasa raya ini.” Keteraturan yang maha sempurna ini tentu membuktikan bahwa di sana ada Dzat yang mengaturnya!”, kata bapak itu penuh semangat.
Subhaanallah! Kegelisahan telah menghantarkan beliau ke Manhaj Salaf.Sebuah hasil pencarian. Perjalanan spiritual untuk meraih cinta Ar Rahman.Semoga Allah memberkahi beliau.
O0000_____ooooO
Bersabar untuk merengkuh nikmatnya hidup bermanhaj Salaf mengingatkan saya kepada sosok sederhana dari sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Perjalanan yang ia tempuh hingga akhirnya merasakan indahnya Manhaj Salaf terbilang berliku-liku. Profesi di bidang desain grafis ia tinggalkan karena tak bisa lepas dari gambar makhluk bernyawa. Sebuah keputusan yang semakin memperuncing konflik di dalam keluarga.
Istrinya menentang saat ia mulai memanjangkan janggutnya. Perubahan demi perubahan sikap belum bisa diimbangi oleh sang istri. Cekcok adalah santapan sehari-hari. Apalagi pihak keluarga besar sudah mulai ikut campur. Cerita-cerita yang ia sampaikan kepada saya memang menegangkan lagi mengharukan. Bahkan, istrinya pernah lari menghilang.
Subhaanallah!
Memang sudah menjadi sunnatullah, siapa saja yang bertekad untuk menjadi hamba yang shalih, harus dihadapkan dengan berbagai ujian. Apakah ia jujur? Apakah ia bersungguh-sungguh?  Apakah ia mudah putus asa? Cepat menyerah? Untuk menguji, seberapa besarkah rasa cinta Nya kepada Allah?
Hari masih begitu pagi, saat ia mengetuk pintu rumah. Gelapnya malam belum terhapus bersih oleh siang. Pasti ada sesuatu yang sangat penting, pikir saya saat itu. Sambil menikmati sejuknya pagi, kami berdua terlibat perbincangan yang serius. Iya, di teras depan rumah saya.
Ia tumpahkan semua uneg-unegnya. Ia curahkan endapan rasa dari hatinya. Hampir saja ia putus asa untuk membujuk istrinya. Menyedihkan!
“Begini, Mas. Setiap proses pasti membutuhkan waktu. Coba Panjenengan jawab pertanyaan saya,” Berapa tahun yang Antum butuhkan untuk berubah semacam ini? Sampai Antum benar-benar menerima Manhaj Salaf sepenuh jiwa? Lama kan? Bertahun-tahun kan?”, saya mengajaknya untuk berpikir tenang.
Seringkali kita dikuasai oleh sikap egois. Kenapa egois? Bertahun-tahun lamanya kita berlari-lari, mengitari sekian banyak titik, untuk mencari kebenaran hakiki. Akan tetapi, setelah menemukannya, kita seakan “memaksakan” kebenaran itu kepada orang-orang yang kita sayangi. Kita seolah “memaksakan” dalam waktu sekejap, agar orangtua kita menjadi Salafy. Anak-anak, istri atau suami menjadi Salafy.
“Semua membutuhkan waktu, Mas. Panjenengan mesti bersabar! Buktikan bahwa setelah menjadi Salafy, Panjenengan semakin lebih baik lagi di dalam memperlakukannya sebagai seorang istri. Kesankan dan hidupkan kesan di dalam hati istri bahwa setelah menjadi Salafy ia akan bertambah bahagia, nyaman dan tentram!”, pesan saya.
Subhaanallah! Al Quluub  bi yadillah. Hati manusia memang berada di antara jari jemari Allah! Waktu terus berjalan dan di sebuah saat, sahabat saya di atas menyampaikan,”Alhamdulillah, Ustadz. Istri saya sudah mau pakai jilbab”. Beberapa bulan kemudian, ia bercerita kalau istrinya sudah mau diajak ngaji. Dan, sebelum saya berangkat ke Yaman, sahabat saya ini telah menyewa sebuah rumah sederhana di lingkungan Salafy bersama istri dan anak-anaknya. Walhamdulillah
O0000_____ooooO
Pagi ini saya berhenti sejenak pada ayat ke-39 di dalam surat Al An’am.
Sangat indah!
Menenangkan hati sekaligus menghadirkan kecemasan. Hati menjadi tenang karena ayat tersebut sangat menghibur mereka yang telah berjuang menyuarakan al haq, menyerukan Manhaj Salaf, namun berakhir dengan penolakan. Di kesempatan yang sama, ayat ini pun menghadirkan kecemasan, apakah kita mampu bertahan di atas cahaya hidayah sampai nafas terakhir esok?
Melalui ayat tersebut,Allah berfirman,
 مَن يَشَإِ اللهُ يُضْلِلْهُ وَمَن يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk mendapat petunjuk), Niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus. (QS. 6:39
Memberikan petunjuk atau menyesatkan adalah hak mutlak milik Allah. Semua ketetapan Nya pasti di atas hikmah dan keadilan. Al Fadhlu lillahi wahdah.
Namun, Allah tidak membiarkan umat manusia begitu saja. Jalan-jalan hidayah telah diterangkan secara sempurna oleh pesuruh-pesuruh Nya. Manusia diberi kemampuan melihat, mendengar, mencerna ,mengolah dan berpikir. Tanda-tanda kebesaran Nya jelas sekali terlihat di alam semesta ini. Ayat syar’iyyah dan ayat kauniyyah!
Ah, bagaimana dengan kita? Mampukah kita tetap istiqomah di jalan Allah sampai akhir hayat nanti? Ya Allah,tetapkanlah hati kami di atas Islam, As Sunnah dan Thalabul Ilmi. Amin yaa Arhamar Raahimiin.
_Daar El Hadith Dzamar_Republic Of Yemen_sebagian dinukil dari buku Resah, Kesah dan Gelisah Kita (dalam proses)_Sabtu 11 Shafar 1435 H/14 Desember 2013_

[1] Hadits Abdullah bin Ghannam Al Bayadhi riwayat Abu Dawud (5073) di dhaifkan oleh Al Albani. Adapun Syaikh Ibnu Baaz menghasankan sanadnya. Wallahu a’lam

http://www.ibnutaimiyah.org/category/kisah/

Baca Selengkapnya ....

Pemimpin itu Pelayan !

(Rinai-rinai Cerita Episode Ketiga)
.
Lentera
“Demi Allah!! Anda harus tetap duduk! Jangan berdiri”
Sumpah di atas yang disandingkan dengan permohonan agar tetap duduk diucapkan Umar bin Abdul Aziz kepada tamunya : Raja’ bin Haiwah, seorang ulama besar asal Palestina di masa tersebut. Malam itu Raja’ bin Haiwah datang bertamu dan menginap di rumah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz Sang Khalifah Adil.
Pelita minyak yang menerangi ruangan tempat mereka berbincang-bincang nampak mulai meredup. Raja’ bin Haiwah lalu berinisiatif untuk memperbaiki pelita tersebut. Saat Raja’ bangkit berdiri, Umar bin Abdul Aziz menahan beliau sambil mengucapkan sumpah di atas.
Raja’ bin Haiwah terheran-heran dengan sikap Sang Khalifah,
“Apakah Anda sendiri yang akan memperbaiki? Anda adalah seorang Amirul Mukminin…”
Umar bin Abdul Aziz tidak menanggapi pertanyaan itu. Beliau tetap bangkit berdiri untuk memperbaiki pelita minyak. Setelah selesai ,beliau menyatakan,
“Saat berdiri tadi, aku adalah Umar bin Abdul Aziz. Ketika kembali lagi, aku pun tetap Umar bin Abdul Aziz”
Subhaanallah! Luar biasa sekali sikap di atas! …”Aku adalah Umar bin Abdul Aziz,bukan karena telah menjadi Amirul Mukminin lantas Aku bukan lagi seorang Umar bin Abdul Aziz…”
Umar bin Abdul Aziz telah mencontohkan secara nyata kepada kita tentang sebuah sisi dari sikap Mengendapkan Rasa…Ya,rasa ingin selalu dilayani oleh orang lain adalah salah satu rasa yang mesti kita endapkan.Justru kita dituntut untuk selalu berpikir kemudian dilanjutkan dengan tindakan nyata, bagaimanakah melayani orang lain?
Dengan posisi sebagai seorang pemimpin besar Islam,Umar bin Abdul Aziz sejatinya layak untuk dilayani.Akan tetapi,beliau lebih memilih untuk merealisasikan sabda Nabi di dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim (2588) ;
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Tidak seorang pun bersikap merendah karena Allah melainkan ia pasti semakin ditinggikan derajatnya oleh Allah”
Pemimpin dengan jiwa melayani adalah dambaan setiap insan… Benar begitu, bukan? Apalagi saat-saat ini… Saat setiap mata dan telinga selalu disibukkan dengan calon pemimpin negeri… Siapapun pasti berharap, pemimpin terpilih esok waktu adalah seorang pemimpin yang berjiwa melayani, memperhatikan rakyat, tidak semena-mena, sederhana dan berusaha sederajat dengan rakyatnya.
Berbicara tentang pemimpin dambaan semacam di atas, pasti segera melambungkan kita kembali kepada kenangan manis Umar bin Khatab, Khalifah Kedua di dalam sejarah Islam. Sepatutnya setiap pemimpin meneladani sifat-sifat beliau yang sangat elok untuk diteladani.
Umar bin Khatab adalah tipe seorang pemimpin yang sangat peduli dengan rakyatnya.
“Andai saja seekor kambing mati di tepi sungat Furat karena tersesat jalannya,aku yakin Allah akan meminta tanggung jawabku pada hari kiamat nanti”, tutur beliau.
Bayangkan saja! Jangankan seorang warga… seorang rakyat… seekor kambing milik rakyat saja beliau nyatakan sebagai bagian dari amanat dan tanggung jawab beliau. Bukankah pemimpin semacam ini yang sedang kita cari?
Umar bin Khatab adalah seorang pemimpin yang berusaha untuk sama-sama merasakan penderitaan rakyatnya. Musim paceklik pernah menyerang… Hujan telah sekian lama tidak tercurah, tanah menjadi kering kerontang gersang dan kelaparan merata di mana-mana. Tahun itu dikenal dengan sebutan Tahun Ar Ramaadah.
Hanya roti gandum dan minyak dari susu sapi yang dimakan oleh Umar bin Khatab… Pemimpin tertinggi kaum muslimin…Seorang pemimpin dari daratan dan lautan yang membentang hingga separuh bumi… Hanya makan roti biasa dengan minyak dari susu sapi?
“Aku tidak sampai hati makan hingga kenyang… Sementara anak-anak kaum muslimin mengalami kelaparan”,demikian kata Umar untuk kita.
Semoga Allah merahmati Umar… Hati ini tergetar, jiwa ikut bergemuruh dan hampir saja kedua pelupuk mata basah tergenangi air mata ketika membaca kisah kecil di atas… Akankah ada pemimpin semacam beliau yang akan kita miliki ?
Umar bin Khatab adalah seorang pemimpin sederhana dan bersahaja.
Hurmuzan… seorang pejabat tinggi kerajaan Persia datang ke kota Madinah untuk menemui Umar bin Khatab..Dengan menggunakan pakaian mewah beserta atribut-atribut kerajaan,Hurmuzan diantar untuk menemui Umar yang sedang tidur beristirahat di dalam masjid.
“Dimanakah Umar?”,tanya Hurmuzan.
Para sahabat yang mengantar lalu memberikan isyarat, “Orang itulah Umar bin Khatab”
Hurmuzan heran,”Loh… dimana para pengawalnya”
“Umar tidak membutuhkan pengawal”, kata para sahabat.
Hurmuzan lalu mengatakan kepada Umar :
“Anda telah memimpin dengan adil sehingga Anda selalu merasa aman. Sehingga Anda pun dapat tidur dengan tenang”
Subhaanallah!
Pemimpin yang adil pasti dapat tidur dengan tenang.Ia akan selalu merasa aman walau tanpa pengawalan. Sebab… Allah lah yang akan menjaga dan melindunginya.. Bukankah pemimpin adil semacam ini yang sedang kita tunggu-tunggu?
Ah… kenapa kita juga belum tersadar ?
Apakah masing-masing kita tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang Pemimpin…? Kenapa setiap kali berbicara tentang Pemimpin, kita selalu membahas dan membicarakan orang lain?
Sekali lagi…. Anda adalah seorang Pemimpin… Walau lingkup dan areanya kecil dan tidak terlalu luas, namun sadarlah bahwa Anda adalah seorang Pemimpin… Keluarga, tetangga dan kawan-kawan Anda adalah rakyatnya…
Kenapa kita berharap muncul seorang pemimpin yang melayani? Seorang pemimpin yang peduli dengan rakyat? Seorang pemimpin yang adil? Seorang pemimpin yang bersahaja? Sementara kita sendiri pun seharusnya menjadi pemimpin yang demikian…
Kenapa tidak kita sendiri yang mewujudkannya? Istri Anda… anak-anak Anda… orangtua Anda… tetangga Anda… kawan-kawan Anda… bawahan dan pegawai Anda… Semuanya berharap agar Anda menjadi seorang pemimpin yang selalu melayani mereka, memperhatikan mereka, bersikap adil kepada mereka dan bersahaja dalam bersikap kepada mereka.
Mengapa benak kita selalu terpaku kepada pemimpin tertinggi di negeri ini? Lalu kita lupa bahwa kita pun ditugaskan Allah untuk menjadi seorang pemimpin…
Rasulullah bersabda di dalam hadist Abdullah bin Umar riwayat Bukhari dan Muslim ;
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه
“Masing-masing kalian adalah seorang pemimpin…Dan masing-masing kalian akan diminta pertanggungjawaban nya pada hari kiamat nanti”
Ingat-ingatlah selalu bahwa Anda adalah seorang pemimpin! Oleh sebab itu, berusahalah belajar mengendapkan rasa “untuk selalu ingin dilayani”… Orang lain pun merasa senang dan tersanjung jika Anda melayaninya… Sering-seringlah memberi sebab kita pun sangat senang jika diberi… Hidup di dunia ini memang untuk saling berbagi dan memberi… Melayani dan dilayani…maka, marilah menjadi pelayan yang baik… Terutama kepada orang-orang yang kita cintai… Jangan karena merasa menjadi seorang pemimpin lantas selalu ingin dilayani…Sesungguhnya pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu melayani…
Contohlah Umar bin Khatab…Contohlah pula Umar bin Abdul Aziz…
00000___________________00000
_Abu Nasim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz_
_di tengah gelapnya di sebuah malam Ramadhan 1434 H_00.35_
dengan harapan membuncah_ya Allah ampunilah dosa hamba Mu ini

Baca Selengkapnya ....

Setiap Kali Teringat Dia, Dunia Ini Terasa Tidak Ada Harganya


Kisah Yang Menakjubkan Tentang Ikhlash
Setiap Kali Teringat Dia, Dunia Ini Terasa Tidak Ada Harganya
 .
Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisahnya:
“Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Al-Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya. Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa,
Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu wahai Yang pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”
Dia terus mengatakan, “Berilah mereka hujan sekarang.”
Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya. Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?” Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.” Dia bertanya, “Apa maksudnya?” Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan. Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru. Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!” Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”
Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “Marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?” Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.” Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?” Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar. Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.” Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”
Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata. Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?” Saya jawab, “Ya.” Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.” Saya tanya, “Memangnya kenapa?” Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.” Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?” Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq = sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”
Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.” Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!” Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.
Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!” Saya jawab, “Labbaik.” Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.” Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?” Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.” Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”
Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain?!” Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.” Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.” Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.” Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.” Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?” Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.” Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.” Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.
Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.
Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Aba Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?” Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?” Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.” Saya bertanya, “Ke mana?” Dia menjawab, “Ke akherat.” Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!” Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.” Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!” Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy, 8/223-225)


Diterjemahkan oleh: Abu Almass bin Jaman Al-Ausathy
17 Rabi’ul Awwal 1435 H
Daarul Hadits – Ma’bar – Yaman
http://www.ibnutaimiyah.org/category/kisah/

Baca Selengkapnya ....

Info Dauroh,


Pengagungan Terhadap Sunnah





Meniti Jejak Salafus Shalih



Baca Selengkapnya ....

Pengagungan Terhadap Sunnah (14 Februari 2014) Madura


14 feb 2014_Madura_Infokajian2
Hadirilah Kajian Dakwah Islam Ilmiah..
Bersama:
Al Ustadz Muhammad bin Umar As Sewed
Tema:
Pengagungan Terhadap Sunnah
Waktu:
Jum’at, 14 Februari 2014
Tempat:
Masjid Al-Falah,
Jl. Dirgahayu No. 22 Bugih – Pamekasan

Baca Selengkapnya ....
 
Free Website templatesRiad in FesFree Flash TemplatesFree joomla templatesCréation site internetConception site internetMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates